EQ AT WORK:
“DIBAYAR BUKAN UNTUK MENGELUH”
Diceritakan, ada sebuah perkumpulan yang isinya orang-orang yang bahagia. Mereka selalu ceria dan bersukacita dalam bekerja. Bersenandung dan tertawa, sepanjang hari sambil melakukan tugas-tugas mereka. Hingga suatu hari, perkumpulan ini kemasukan seseorang baru yang perangainya berbeda. Si orang baru ini punya kebiasaan mengutuk dan berceloteh soal hal-hal yang buruk sepanjang hari. Cuaca yang buruk, baju yang nggak nyaman, badannya yang ngilu, dan masih banyak lagi. Dan beberapa minggu kemudian, beberapa orang diperkumpulan itupun mulai ikut berkeluh kesah. Dan di akhir tahun, berbagai sikap dan perangai buruk dalam berkata-kata mulai mengjangkiti hampir semua orang di perkumpulan itu. Mereka akhirnya tidak lagi bernyanyi dan bersukacita. Semuanya ikut-ikutan mengeluh!
Begitulah, kadang dalam organisasi pun dibutuhkan hanya satu orang saja yang hobi dan perangainya suka berkeluh kesah, maka keseluruhan organisasi bisa terjangkiti virus untuk mengeluh. Padahal, selalu dikatakan, “Mengeluh tidak menyelesaikan masalah, bahkan membuat beban pekerjaan kita menjadi semakin berat”.
Mari kita ambil perumpamaan seperti ini. Anda mendapat tugas untuk mengangkat kantong yang beratnya 10kg. Lantas, dia atas kantong tersebut terdapat sebuah kantong kosong kedap udara yang bisa diisi dengan apapun. Nah, pertanyaannya kantong kosong di atas itu hendak diisi dengan apa?
Mereka yang mengeluh, ibaratnya mengisi kantong kosong itu dengan “kerikil dan batu keluhan”. Akibatnya apa yang terjadi? Beban pekerjaan mereka menjadi semakin berat! Beban yang tadinya 10kg bisa menjadi 15 atau bahkan 20kg.
Tetapi, mereka yang bersukacita dan senang, justru sebaliknya. Mereka memutuskan untuk mengisi kantong kosong di atas kantong 10kg itu dengan gas yang ringan dan bisa terbang, semacam gas Heliumlah. Lantas, kantong itu diikatkan ke kantong 10kg. Akibatnya apa? Dengan kantong yang lebih ringan dan terbang itu, berat yang tadinya 10kg, justru kini beratnya jadi 7kg, 5kg atau bahkan kurang.
Begitulah efek mengeluh. Ibaratnya, kita telah mendapatkan sebuah beban pekerjaan yang berat namun masih menambahkan berat lainnya ke atas beban diri kita. Namun, celakanya, banyak pengeluh yang tidak menyadari efeknya sama sekali.
Dampak Mengeluh
Mengeluh, jelas-jelas memiliki berbagai dampak yang buruk. Pertama-tama, seperti yang kita ilustrasikan dalam eksperimen di atas, mengeluh membuat beban pekerjaan jadi bertambah. Bukannya lebih enteng, justru mengeluh memperburuk situasi.
Selain itu, mengeluh adalah energi negatif yang bisa menulari tim. Ketika tidak dikontrol, mengeluh bisa turut membuat tim lainnya jadi ikut-ikutan menjadi orang yang negatif pula.
Selian itu pula, mengeluhpun membuat orang yang hobinya mengeluh mulai dijauhi dan tanpa sadar justru memburuk dan membuat dirinya makin lama makin kerdil dan tidak berkembang. Parahnya, orang seperti ini biasanya jarang sekali menyadari. Tetapi, untuk jangka panjang si pengeluh inilah yang akhirnya rugi buat dirinya sendiri. Makanya ada sebuah kalimat menarik soal orang yang hobinya mengeluh, “Mengeluh itu ibarat orang yang mulutnya bau. Dia bisa mencium bau mulut orang lain, tapi tidak bisa mencium baunya sendiri”. Begitu juga halnya si pengeluh. Kadang mereka bisa complain atau berkeluh kesah tentang orang lain tapi tidak dengan dirinya sendiri.
Dan akhirnya, karma buruk pun seringkali terjadi sama si pengeluh. Akhirnya, mereka inipun mendapatkan hal-hal buruk dalam kehidupannya. Termasuk, jika ia adalah seorang yang bekerja di sebuah organisasi, biasanya organisasipun akan menghukum kebiasaan buruk mereka. Karir mereka biasanya tidak maju, dan hasil yang mereka peroleh pun pas-pasan. Hal ini lantaran dalam bekerja mereka lebih bersikap negatif daripada berkontribusi. Energi mereka sudah habis dengan berkeluh kesah, bukannya dengan memberikan nilai tambah. Menariknya, mereka pun mulai berkeluh kesah soal karir dan pekerjaan mereka yang tidak kemana-mana, lantas mereka pun menyalahkan perusahaan dan organisasi tanpa bisa berkaca bahwa sebenarnya hal ini adalah akibat dari ulah mereka sendiri.
Mulailah Diet Mengeluh
Apa solusi buat para pengeluh? Gampang. Stoplah mengeluh. Satu kesadaran yang harus mulai dimunculkan adalah mengeluh tidak menyelesaikan masalah. Karena itu, bukan saja kita perlu melakukan diet makanan agar badan kita fit. Kitapun perlu melakukan diet mental dengan cara stop dan berhenti mengeluh.
Diceritakan ada satu hal yang menarik tentang Jackie Robinson, tokoh pemain baseball kulit hitam yang pertama kali main di Baseball Major League. Nah, sebagai seoarang tokoh atlit yang bergitu ternama, dalam semua kontraknya adalah kalimat menarik, “Tidak boleh mengeluh apapun keadaannya, termasuk kalau ada orang yang meludah kepadamu”. Awalnya, pasal ini sebenarnya merupakan “pasal hukuman” dimana sebagai seorang kulit hitam ia akan banyak dicemooh dan direndahkan. Dengan adanya pasal ini, maka Jackie Robinson tidak bisa menuntut apapun. Namun, di kemudian hari, tatkala ditanya soal pendapatnya terhadap pasal ini, justru Jackie Robinson melihatnya dari sisi yang berbeda. Menurutnya, pasal itu justru membuat mentalnya jadi positif. Ia pun mulai menjalani diet mengeluh. Bahkan menurutnya, pasal itu justru membuat hidupnya jadi berbahagia karena pikirannya terus-menerus mencari cara untuk tidak mengeluh!
Begitulah. Memang tatkala kita masuk ke tempat kerja, tidak ada perjanjian tertulis yang mengatakan bahwa kita tidak boleh mengeluh. Tetapi, mungkin sudah seharusnya kita menambahkan pasal ini ke dalam perjanjian diri kita sendiri. Bahwa, saya akan berusaha dan bekerja sekeras mungkin untuk tidak mengeluh. Dan percayalah, tatkala kita direkrut menjadi karyawan, perusahaan berharap bahwa kita akan memberikan nilai tambah dan manfaat melalui hasil kerja kita, bukannya dengan keluhan kita. Organisasi sudah punya banyak masalah, tidak perlu ditambah lagi dengan keluhan-keluhan Anda lagi kan?
Salam Antusias!!
home
Home